Wanita Cantik Meninggal di Atas Taksi Online di Surabaya, Sempat Batuk-batuk dan Kejang

Seorang wanita warga Sawahan Surabaya meninggal di taksi online. Peristiwa ini sempat membuat bingung sang sopir dan geger di sekitar lokasi si sopir meminta bantuan ke masyarakat. Sang sopir yang diketahui bernama Gatot menceritakan, saat duduk di atas jok mobilnya Daihatsu Xenia warna hitam L 1070 PI mendadak batuk batuk lalu tubuhnya mengejang.

Tak lama kemudian, wanita cantik ini roboh ke sisi kanan kursi penumpang. Sontak, Gatot menoleh ke arah penumpang yang duduk di jok tengah itu. Khawatir terjadi apa apa pada penumpangnya, ia menepikan dan menghentikan laju mobilnya di bahu jalan depan toko kelontong Jalan Raya A Yani, Surabaya.

Korban yang mengenakan masker penutup wajah itu, terlihat kejang kejang lalu tak bergerak. Ia kemudian turun dari kendaraan untuk minta pertolongan pada warga sekitar. Di situ juga ada abang becak yang tengah mangkal, penjual makanan dan warga lain.

Namun warga tak berani menolong karena takut terjadi apa apa. Apalagi di musim pandemi Covid 19 seperti ini. "Ada warga yang meneleponkan orang kelurahan," tutur Gatot.

Tak lama berselang, anggota tim medis dari Pemkot Surabaya tiba ke lokasi untuk memeriksa kondisi IM. Namun petugas medis, menyampaikan IM dinyatakan telah meninggal dunia. Peristiwa yang berlangsung sekitar pukul 11.30 WIB mengundang tim medis, kepolisian datang ke lokasi untuk melakukan penyelidikan.

Tim Inafis Polrestabes Surabaya juga turun untuk mengevakuasi korban. Sesuai keterangan yang diperoleh, siang itu, IM menyewa taksi online mobil Daihatsu Xenia warna hitam L 1070 PI dikemudikan Gatot. Gatot menerangkan, sekitar pukul 11.00 WIB ia menerima order dan menjemput orderan via aplikasi dari IM di sebuah rumah toko (ruko) di kawasan Tenggilis Mejoyo, Surabaya.

Laiknya penumpang pada umumnya, Gatot menyapa IM setibanya masuk di dalam kursi penumpang mobilnya. "Tadi dari Jalan Tenggilis Mejoyo mau ke padang pasir (Jalan Siwalankerto) itu gak apa apa, setelah itu saya nanya 'siang bu?' 'Siang' gitu. Ya saya nanya sekali aja," katanya saat ditemui awak media di lokasi. Menurut Gatot, IM terbilang irit bicara dan hanya berkomunikasi seperlunya saja.

Ketika Gatot menanyakan alternatif rute jalan yang ingin ditempuh. IM tak terlalu cerewet dan lebih memasrahkan semuanya, pada Gatot. Ia juga tak begitu hapal wajahnya karena IM mengenakan masker kain untuk menutup hidung dan mulutnya.

"Sampai depan Kantor Pos, saya tanya lagi 'lewat frontage atau lewat kutisari'. Dia jawab 'lewat mana aja pak yang penting sampai tujuan'," ujarnya. Ketika mobil melaju di Jalan Frontage Road Jalan A Yani, Siwalankerto, Wonocolo, Surabaya, menjelang persimpangan jalan, IM mendadak batuk.

Khawatir dengan kondisi penumpangnya, ia sempat menoleh ke belakang dari kursi kemudi. Ternyata tubuh IM sudah roboh ke sisi kanan kursi penumpang dan terlihat kejang kejang beberapa saat. "Pas pertigaan sebelum masuk sini, terdengar kayak batuk gitu. Saya kira mau muntah, habis situ jatuh," terangnya.

Setelah koordinasi dengan Polsek Wonocolo langsung datang ke TKP untuk mengamankan lokasi. Sekitar pukul 13.30 WIB jenazah IM dievakuasi dan dibawa ke kamar mayat RSUD Dr Soetomo Surabaya. Kapolsek Wonocolo, Kompol Masdawati Saragih menerangkan wanita itu awalnya naik taksi online.

Di tengah perjalanan korban seperti batuk 2 kali, lalu jatuh ke kursi di mobil. Kapolsek menduga, korban meninggal dunia karena penyakit jantung. Itu dilatarbelakangi keterangan saksi mata, yakni sopir taksi online yang disewa, korban. Sebelum diketahui meninggal di bangku penumpang, IM sempat batuk batuk lalu disusul gejala klinis berupa kejang.

"Informasi awal, mungkin jantung, belum ada pemeriksaan. Tapi dari laporan sopir tersebut, dia (korban) mengalami sakit, batuk," katanya saat ditemui awak media di lokasi. Kendati begitu, Kompol Masdawati masih menunggu hasil visum luar yang dilakukan anggota Tim Inafis Polrestabes Surabaya terhadap jenazah IM di Kamar Mayat RSU Dr Soetomo Surabaya. Disinggung mengenai dugaan tewasnya IM karena terpapar Coronavirus Disease 2019 (Covid 19), Masdawati tegas membantahnya.

"Tanda tanda muntah kejang kejang tapi tidak sesak. Data awal bukan Covid 19. Karena situasi pandemi mau nggak mau olah TKP pakai APD yang lengkap," terangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *