Seluruh Korban Susur Sungai Ditemukan, Berikut Identitas 10 Siswa SMPN 1 Turi yang Meninggal

Sepuluh korban tragedi susur sungai siswa SMPN 1 Turi Sleman di Sungai Sempor berhasil ditemukan setelah dua korban terakhir ditemukan, Minggu (23/2/2020) pagi ini. Data dari Pusdalops BPBD DI Yogyakarta seperti disampaikan Kapusdatinkom BNPB, Agus Wibowo, dua korban ditemukan pada Minggu (23/2/2020) pukul 05.30 WIB masing masing Yasinta Bunga dan Zahra Imelda. Dengan demikian sebanyak 10 korban semuanya telah ditemukan.

Sebelumnya, Sabtu (22/2/2020) kemarin ditemukan korban Nadine Fadilah. Sementara total data korban sebanyak 249 siswa terdiri dari kelas 7 sebanyak 124 siswa dan Kelas 8 ada 125 siswa. Dari jumlah tersebut yang selamat ada 216 siswa, korban luka luka 23 siswa dan 10 siswa lainnya meninggal dunia.

"Dengan sudah ditemukannya seluruh korban maka Operasi SAR dinyatakan selesai hari ini dan seluruh potensi SAR dikembalikan ke masing masing unsur," tutur Asnawi, Komandan Operasi SAR Sungai Sempor 2020 dalam keterangan rilis pers pagi ini. Berikut data korban meninggal dunia. Korban ditemukan Jumat (22/2/2020) dan Sabtu (22/2/2020):

1. Sovie Aulia (8C/Perempuan/15th/Klinik SWA) da. Sumberejo Rt.22 Rw.6, Kaliurang, Srumbung, Magelang. Sudah dibawa pulang keluarga ke Magelang; 2. Arisma Rahmawati (7D/Perempuan/13th/Klinik SWA Pusk. Turi) da. Ngentak Rt.2 Rw.23, Tepan, Bangunkerto, Turi. Sudah dibawa pulang keluarga; 3. Nur Azizah (8A/Perempuan/15th/Klinik SWA) da. Kembangarum Rt.2 Rw.30 Donokerto, Turi. Sudah dimakamkan;

4. Lathifa Zulfaa (8B/Perempuan/15th/Pusk. Turi) da. Kembangarum Rt.4 Rw.33 Donokerto, Turi. Teridentifikasi DVI pkl.00.00 WIB; 5. Khoirunnisa Nurcahyani Sukmaningdyah (7C/Perempuan/14th/Pusk. Turi) da. Karanggawang Rt.5 Rw.25 Girikerto, Turi. Diambil keluarga pkl. 21.00 WIB; 6. Evieta Putri Larasati (7A/Perempuan/13th/Pusk. Turi) da. Soprayan Rt.4 Rw.19 Girikerto, Turi. Sudah diambil keluarga pkl.21.36 WIB;

7. Faneza Dida (7A/Perempuan/13th) da. Glagahombo Rt.3 Rw.19 Girikerto,Turi. 8. Nadine Fadilah (7D/Perempuan/12th) da. Kenaruhan Rt.5 Rw.18 Donokerto, Turi. Ciri² : kecil, kurus, kuning langsat, tinggi 140cm. Korban ditemukan Minggu (23/2/2020):

1. Yasinta Bunga (7b/Perempuan/13th) da. Dadapan Rt.5 Rw.27, Donokerto, Turi. Ciri² : dipipi ada tahi lalat, tinggi ±150cm, 40kg, kulit putih, rambut agak keriting sepinggang; 2. Zahra Imelda (7D/Perempuan/12th) da. Kenteng, Wonokerto, Turi. Ciri² : hitam manis, tinggi 140 cm, rambut sebahu bergelombang, agak kurus); Sebelumnya dua jenazah korban insiden susur sungai Pramuka SMPN 1 Turi akhirnya ditemukan pagi ini, Minggu (23/2/2020).

Dua korban ini ditemukan mengambang di DAM Dukuh, Donokerto, Turi. Korban pertama ditemukan sekitar pukul 05.00 WIB, sedangkan korban kedua ditemukan pukul 07.15 WIB. "Posisi kedua jenazah sama waktu ditemukan, kemungkinan awalnya ndelik (sembunyi) di balik fondasi DAM," ucap personel SAR MTA Yogyakarta, Gandung Kusmardana saat ditemui di posko utama di Lembah Sempor.

Lokasi penemuan ini berada sekitar 400 hingga 700 meter dari tempat kejadian perkara kecelakaan air bah yang menewaskan 10 siswi SMPN 1 Turi pada Jumat (21/2/2020) sore. Keduanya dibawa ke RS Bhayangkara Yogyakarta untuk identifikasi. Dengan demikian seluruh korban insiden ini telah ditemukan.

Rencananya operasi pencarian oleh tim SAR gabungan akan ditutup hari ini. Korban terlihat mengambang pada jarak 400 meter di sungai dengan kedalaman 2 meter kemudian berhasil dievakuasi. Sedangkan hasil update operasi SAR yang dirilis TRC BPBD DIY pada pukul 07.38 WIB menyebutkan:

Update Ops SAR: 05:10 1 korban ditemukan 07:12 1 korban ditemukan

Keduanya ditemukan di Dam Mantras, Dukuh, Donokerto. Detail informasi menunggu identifikasi DVI dan laporan resmi Posko SAR Gabungan. Semoga Tuhan meridhoi kerja kemanusiaan kita semua."

Musibah hanyutnya ratusan siswa SMP1 Turi, Sleman, yang mengakibatkan 8 orang tewas dan dua lainnya belum ditemukan,berbuntut panjang. Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menetapkan satu orang pembina pramuka yang juga guru SMPN 1 Turi sebagai tersangka terkait kejadian itu. Hingga pukul 19.30 WIB, Sabtu (22/2/2020), tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian korban hilang.

Kepala Bidang Humas Polda DIY, Kombes Yuliyanto, menjelaskan ada delapan korban meninggal yang sudah dapat dievakuasi, dan satu korban lagi diperkirakan meninggal namun belum dievakuasi. Sedang satu siswa masih dalam pencarian alias hilang. "Dua nama yang masih kami cari adalah Yasinta Bunga Maharani dan Zahra," kata Kombes Yuliyanto.

Diungkapkan, sejauh ini polisi telah memeriksa 13 orang, tujuh di antaranya adalah pembina pramuka. "Kami sudah menaikkan status seorang saksi, inisial IYA, menjadi tersangka. Saat ini, yang bersangkutan sedang dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka," katanya. Tersangka IYA (36), pria kelahiran Sleman, merupakan pembina pramuka sekaligus guru olahraga di SMPN 1 Turi.

Yuliyanto menyebut IYA meninggalkan para siswa ketika mereka melakukan kegiatan susur di Sungai Sempor. IYA juga merupakan inisiator atau yang mengusulkan dan penanggung jawab kegiatan susur sungai terhadap ratusan siswa SMP tersebut. Namun, ternyata kegiatan itu tidak diberitahukan kepada warga yang mengelola Sungai Sempor sebagai kegiatan susur sungai.

Padahal, prosedur sebelum melakukan kegiatan harus ada survei dan pemberitahuan kepada pengelola sungai agar ada petugas berjaga untuk memantau kondisi arus. Polisi mengenakan Pasal 359 KUHP mengenai kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia. Selain itu, tersangka dikenakan Pasal 360 KUHP, yaitu karena kelalaiannya mengakibatkan orang lain luka‑luka.

Apakah ada kemungkinan tersangka bertambah? Yuli menjawab, tergantung hasil pemeriksaan saksi‑saksi. Menurutnya, polisi belum meminta keterangan dari siswa karena mereka masih mengalami trauma.

"Polda DIY juga menyiapkan petugas untuk trauma healing. Ketika mereka sudah masuk sekolah ada terapi secara psikologis kepada anak‑anak itu," katanya. Berdasarkan pemeriksaan, sebanyak tujuh pembina pramuka terlibat dalam kegiatan susur sungai. Namun, satu orang tinggal di sekolah untuk menjaga barang‑barang para siswa. "Sebanyak enam orang ikut mengantar anak‑anak ke sungai. Dari enam orang itu, empat orang ikut turun ke sungai. Ada seorang yang meninggalkan lokasi karena ada keperluan. Sedangkan seorang lagi, menunggu di titik finish yang berjarak sekitar 1 km dari start," terangnya.

Data Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), para murid yang melakukan aktivitas susur sungai ini berjumlah 249 orang, rinciannya kelas 7 sejumlah 124 orang dan kelas 8 sejumlah 125. Posko mencatat 216 orang selamat sedangkan 23 lainnya luka‑luka. Musibah tersebut terjadi diperkirakan karena arus deras dan volume air sungai yang meluap secara tiba‑tiba dari hulu sungai. Arus deras dan volume air ini akhirnya menghanyutkan peserta susur sungai hingga mengakibatkan jatuhnya korban meninggal dan luka‑luka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *