Pemain Sinetron Cinta Fitri Bersaksi di Sidang Korupsi Tubagus Chaeri Wardana

Aima Mawaddah alias Aima Diaz, pesinteron yang pernah berperan di sinetron Cinta Fitri memenuhi panggilan sebagai saksi terkait kasus korupsi pengadaan Alat Kedokteran Rumah Sakit Rujukan Provinsi Banten pada Dinas Kesehatan Provinsi Banten APBD dan APBD P Tahun Anggaran 2012 dan tindak pidana pencucian uang. Dia dihadirkan Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi untuk memberikan keterangan untuk terdakwa Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, bos PT Bali Pasific Pragama (BPP). Sidang digelar di ruang sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, pada Senin (9/3/2020) siang.

Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi, Roy Riadi, mengatakan Aima Diaz merupakan salah satu dari tiga orang saksi yang dihadirkan pada Senin ini. Selain Aima Diaz, terdapat dua orang saksi lainnya, yaitu Laura indriani, staf PT Bali Pasific Pragama dan Ama Liko Nicolaus. "Kami memberitahukan hari ini agenda 9 saksi. Yang hadir 3 saksi ditambah satu saksi kemarin yang belum selesai. Insya Allah siap semua," kata Roy Riadi

Sementara itu, ketua majelis hakim Ni Made Sudani menanyakan identitas dari masing masing saksi termasuk Aima Diaz. Aima Diaz mengaku sempat main sinetron Cinta Fitri. "Dulu sempat main sinetron. Sudah lama bu. (Main film, red) Cinta Fitri, sekarang ibu rumah tangga," kata Aima Diaz.

"Terakhir main sinetron kapan?" tanya Ni Made Sudani. "2010," jawab Aima Diaz. Ni Made Sudani menanyakan apakah saksi mengenal Wawan.

"Kenal dengan terdakwa," kata Ni Made. "Kenal," jawab Aima Diaz. "Kenal sebagai apa," kata Ni Made

"Teman" jawab Aima Diaz. "Teman apa?" kata Ni Made Sudani. "Teman kerja," jawab Aima Diaz.

Sedangkan, enam saksi lainnya berhalangan hadir. Mereka yaitu, Irwansyah, Rebecca Soejatie, Jennifer Dunn, Cathrine Wilson, Reny Yuliana, dan Yessica Devis. Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada KPK mendakwa Komisaris Utama PT Balipasific Pragama (BPP) Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan melakukan pencucian uang dengan nilai sekitar Rp 579,776 miliar.

JPU pada KPK membacakan dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (31/10/2019). Untuk tindak pidana pencucian uang (TPPU), JPU pada KPK membagi menjadi dua dakwaan. Dakwaan pertama, yaitu periode 2010 2019. Pada periode ini, uang yang diduga disamarkan mencapai Rp479.045.244.180 dalam mata uang rupiah dan mata uang asing.

Pada dakwaan kedua, Wawan disebut melakukan pencucian uang dalam kurun waktu 2005 2010. Pada periode ini, uang yang diduga disamarkan mencapai Rp 100.731.456.119.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *