Najwa Shihab Tanyakan Video Kemarahan Jokowi, Moeldoko Singgung Lembaga di Luar Kabinet

Video kemarahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada 18 Juni lalu menghebohkan publik. Pada acara Mata Najwa, Rabu (1/7/2020), Najwa Shihab menanyakan kepada Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengenai video Jokowi marah marah tersebut. "'Siapa itu yang enggak punya perasaan, apa apaan ini?' Saya mengulang (pernyataan) Pak Jokowi, ya Pak," tanya Najwa Shihab.

Moeldoko menyebut, sindiran yang dilempar oleh Jokowi itu bukan berarti hanya ditujukan kepada para menteri. Hal itu disampaikan dalam video yang diunggah di kanal YouTube Najwa Shihab, Kamis (2/7/2020). "Ya begini di dalam mengelola negara ini bukan saja dari sisi presiden beserta seluruh jajarannya,"kata Moeldoko.

"Karena di situ ada institusi institusi atau lembaga lembaga lain yang memiliki kontribusi atas berjalannya sebuah sistem," imbuhnya. Lebih lanjut,Najwa Shihab kembali menanyakan soal kemungkinan pihak yang disindir oleh Jokowi adalah instansi instansi seperti BI atau OJK. "Jadi ini bukan kabinet? Ini lembaga di luar kabinet," ucap Najwa.

"Ya pastinya seperti itu," jawabMoeldoko. Moeldoko juga menyampaikan, saat rapat itu memang instansi instansi yang disebut Najwa Shihab datang menghadiri rapat. Sementara itu, Najwa kembali menanyakan seputar video kemarahan Jokowi yang memiliki jeda 10 hari untuk dipublikasikan.

"Ini kan kejadian tanggal 18 tapi baru dipublikasikan 10 hari kemudian, itu kenapa ada jeda waktu sedemikian lama," tanya Najwa Shihab. Moeldoko langsung menjawab singkat pertanyaan Najwa Shihab. "Ah itu tidak terlalu signifikan, enggak perlu dibahas lah itu," jawabnya.

"Kenapa enggak perlu Pak?" tanya Najwa Shihab lagi. Moeldoko pun menyatakan, itu adalah bagian dari strategi. Namun tidak jelas strategi apa yang dimaksud oleh Moeldoko.

Ia enggan membahas lebih jauh terkait hal tersebut. "Itu bagian dari strategi,"ujar Moeldoko. "Strategi apa?" tanya Najwa Shihab.

"Sudah enggak usah dilanjutkan," terangMoeldoko. Najwa Shihab lalu menyimpulkan, memang ada maksud tertentu di balik jeda 10 hari dirilisnya video kemarahan Jokowi tersebut. "Berarti memang kesengajaan dirilisnya 10 hari kemudian, melihat ada situasi tertentu, kenapa dirasa publik perlu melihat kemarahan itu."

"Kenapa kita perlu tahu Pak Jokowi marah marah pada anak buahnya," tuturNajwa Shihab. "Yang paling penting adalah bagaimana memahami substansi dari kemarahan itu," jelas Moeldoko. Sebelumnya diberitakan, Jokowi meluapkan kemarahannya lantaran kinerja para menterinya dalam menangani Covid 19 tidak mengalami kemajuan.

Hal ini baru diketahui dalam video yang diunggah di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (28/6/2020). Menurutnya, suasana tiga bulan ke belakang semestinya adalah suasana krisis karena adanya pandemi Covid 19. "Suasana dalam tiga bulan ke belakang ini dan ke depan, mestinya yang ada adalah suasana krisis," tegas Presiden Jokowi.

Jokowi meminta jajarannya memiliki perasaan yang sama, apa yang dilakukan pemerintah itu berdampak besar terhadap kehidupan seluruh warga Indonesia. "Kita juga semuanya yang ada di sini, sebagai pimpinan, sebagai penanggung jawab, kita yang berada di sini bertangungjawab kepada 267 juta penduduk Indonesia, tolong digaris bawahi," kata Jokowi. "Dan perasaan itu kita sama ada sense of crisis yang sama," imbuhnya.

Ia jugamengingatkan,Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi(OECD) telah memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia terkontraksi minus 6 7,6 persen. Bahkan, Jokowi menyebutkan data Bank Dunia yang memperkirakan minus 5 persen. Jokowi mengatakan, sangat berbahaya jika para menterinya menganggap pandemi virus corona sebagai masalah yang normal normal saja.

"Perasaan ini harus sama, kita harus ngerti ini, jangan biasa biasa saja, jangan linier, jangan menganggap ini normal," ujar Jokowi. "Saya melihat masih banyak kita yang menganggap ini normal," sambungnya. Lebih lanjut, ia pun menegaskan, para menteri harus kerja luar biasa dalam menangani Covid 19.

"Lha kalau saya lihat bapak ibu dan saudara saudara masih melihat ini sebagai masih normal, berbahaya sekali." "Kerja masih biasa biasa saja. Ini kerjanya memang harus ekstra luar biasa, extra ordinary ," papar Jokowi. Jokowi pun meminta untuk menyamakan perasaan terkait kondisi krisis seperti sekarang.

Ia menginginkan para menteri di kabinetnya agar tidak ada perbedaan. "Perasaan ini tolong sama. Kita harus sama perasaannya. Kalau ada yang berbeda satu saja, sudah berbahaya," terang Jokowi. "Jadi, tindakan tindakan kita, keputusan keputusan kita, kebijakan kebijakan kita, suasananya harus suasana krisis."

"Jangan kebijakan yang biasa biasa saja menganggap ini sebuah kenormalan. Apa apaan ini?" ucapnya. Sementara itu, Jokowi ingin tindakan dan keputusan, kebijakan para menteri harus optimal dalam suasana krisis. Diatidak inginmenterinyamengambil kebijakan yang biasa saja dan menganggap sebagai sebuah kenormalan.

Mestinya, untuk para menteri tidak menerapkan kebijakan yang standar pada suasana krisis. Manajamen dalam situasi krisis, lanjut Jokowi, seharusnya sudah berbeda. "Kalau perlu kebijakan perppu, ya perppu saya keluarkan. Kalau perlu perpres, ya perpres saya keluarkan," jelasnya.

"Kalau sudah ada peraturan menteri keuangan, keluarkan untuk menangani negara tanggung jawab kita kepada 267 juta rakyat kita." "Saya lihat, masih banyak kita ini yang seperti biasa biasa saja. Saya jengkelnya di situ. Ini apa nggak punya perasaan? Suasana krisis," kata Jokowi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *