Ketut Suparta Dilaporkan Berulangkali Sodomi Wanita di Kamar Kos Kuta Bali

Seorang perempuan asal Lumajang, Jawa Timur berinisial AS (32) diduga mengalami kekerasan seksual. Perempuan yang tinggal di rumah kos di bilangan Jalan Nusantara, Tuban, Kuta ini menjadi korban 'sodomi paksa' oleh seorang pria asal Klungkung, I Ketut Suparta (42). Informasi yang dihimpun, peristiwa ini sudah terjadi dan berulang kali sejak lama.

Pria yang telah dikenal korban sehari hari ini dilaporkan melakukan kekerasan seksual pada dirinya sejak bulan November hingga Desember 2019 lalu. Sehari setelah dilaporkan, petugas Reskrim langsung bergerak dan menggelandang Ketut Suparta dari rumahnya. "Ya benar, pelaku telah kami tangkap setelah kasusnya dilaporkan," ungkap Kasatreskrim Polresta Denpasar Kompol Wayan Arta Ariawan, Kamis (30/1/2020).

Namun, mantan Kasat Narkoba Polresta Denpasar ini enggan membeberkan kronologi kejadian ini lantaran belum menerima laporan dari anggotanya. "Nanti ya saya cek dulu. Tapi pelaku sudah kami tahan dan jalani pemeriksaan kok," tegas mantan Kapolsek Kuta Utara ini. Informasi yang dihimpun, korban melaporkan bahwa awal kali kejadian terjadi di rumah kosnya dimana korban tinggal sendirian.

Saat di dalam kamar, pelaku yang diduga memiliki kelainan seks ini memaksa korban untuk berhubungan badan dan ditolak korban. Namun, pria asal Dusun Bingin Desa Kusamba Dawan Klungkung ini terus memaksa hingga kemudian terjadilah aksi sodomi paksa. Selang hingga sebulan, korban hanya bisa memendam perlakuan bejat dan menahan rasa sakit dianusnya ini sendirian.

"Informasinya korban sudah sering disodomi korban di kamar kosnya. Pelaku ancam korban agar tidak laporkan ke Polisi," bisik sumber. Korban mengaku tidak berani melapor karena takut ancaman pelaku yang akan memukuli dirinya. Tidak tahan, korban pun memberanikan diri untuk melaporkan korban kepada pihak berwajib.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sodomi merupakan senggama antarmanusia yang terjadi secara anal. Pemerkosaan selain berdampak pada psikis korban, juga berdampak pada fisik. Area yang paling terdampak dari senggama secara anal adalah anus dan rektum.

Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SsPD KGEH, MMB, FINASIM, FACP menjelaskan, anus atau dubur memang tidak dipersiapkan untuk menerima masuknya benda asing dari luar, termasuk penis. Sehingga, masuknya benda asing secara paksa melalui dubur dan tanpa pelumas akan menyebabkan dinding anus dan bagian poros usus (rektum) rentan mengalami luka. Ketika luka sudah timbul, maka area tersebut rentan mengalami infeksi.

"Ini (dubur) bukan tempat untuk senggama, tapi untuk BAB (buang air besar) keluar. Feses sebelum dikeluarkan setiap pagi memang ditampung di situ." "Ini sumbernya infeksi, kuman, jamur, bakteri, ada di sana." Hal itu diungkapkan Ari dalam sebuah seminar bertajuk Waspadai Kekerasan Seksual di Gedung Imeri FKUI Salemba, Jakarta Pusat, Jumat (10/1/2020). Berbagai penyakit infeksi karena hubungan seksual (Sexually Transmitted Disease/STD) mudah ditularkan melalui hubungan anal seks ini.

Ari menyebut beberapa penyakit STD antara lainHIV, Herpes simplex, hepatitis B, hepatitis C, dan Human Papiloma Virus. Selain itu, infeksi bakteri yang bisa terjadi antara lain gonorea, khlamidia, syphilis, dan shigelosis. Pasien dengan infeksi bakteri bisa saja mengalami diare berdarah dan berlendir, mengalami luka luka terinfeksi, bahkan timbul bisul dan radang di seputar dubur dan rektum.

Akibat paling berbahaya dari seks anal adalah terjadinya kanker anus. "Kanker anus adalah paling ujungnya (paling parah). Yang selalu harus kita duga penyebabnya adalah seks anal," kata Ari. Tak hanya bagi penerima, pelaku juga bukan berarti terhindar dari penyakit.

Jika si penerima menderita penyakit, misalnya hepatitis B atau C, maka pelaku juga bisa tertular. "Jadi ada dampaknya. (Pelaku) tidak juga aman jika penerimanya menderita hepatitis B, C atauHIV. Bisa ketularan," ucapnya. Penggunaan pelumas memang membuat dubur menjadi lebih lunak untuk penetrasi, namun bukan berarti risikokesehatanberkurang. Begitu pula jika pelaku menggunakan kondom.

"Kalau pelaku pakai kondom relatif risiko lebih kecil, tapi tetap ada risiko karena anus tidak siap untuk menerima benda asing selain kotoran keluar," jelas Ari.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *